Untuk Mu Yang Dulu Dan Akan Selalu Ku Cintai




Hai masalalu yang tak pernah ingin ku hapus dari memori ku, yang selalu ku jaga dengan sangat baik. Hai cinta yang aku anggap sebagai cinta pertama ku. Bagaimana kabar mu disana? Maaf aku yang tak pernah menjenguk mu di peristirahatan terakhir mu. Maaf bila kau merasa aku melupakan mu, padahal dulu aku pernah berkata bahwa kau orang pertama yang akan ku temui disaat aku sudah bisa mencapai cita-cita ku setelah orang tua ku. Maaf jika kau merasa aku seperti tak mengenal mu lagi. Kamu salah jika merasa aku tak lagi mengingat mu, karena tiap malam ku selalu tersita untuk mengenang mu.
Masih ingatkah kamu saat dimana aku selalu mengganggu waktu mu dengan cara selalu mengirim pesan singkat kepada mu, dan selalu juga kau balas? Masih ingatkah kamu saat kita selalu berkomunikasi, bahkan sampai subuh, namun kau tak pernah merasa terganggu akan hal itu?

Lantas bagaimana sekarang aku harus berkomunikasi dengan mu? Bagaimana lagi aku bisa mengirim pesan singkat kepadamu? Bagaimana lagi aku bisa mengganggu waktu tidur mu? Bagaimana? Dunia kita yang tak lagi sama, kau berada ditempat dimana aku tak lagi bisa mengunjungi dan melihat wajah mu dari kejauhan, seperti yang aku lakukan kala itu, saat menghampiri rumah mu dan menatap wajah mu dari seberang jalan, dan saat itu aku tahu bahwa kamu tak menyadari keberadaan ku, saat itu aku tak punya nyali untuk menegur mu, entah apa yang ada di pikiran ku saat itu, tapi yang pasti aku hanya tak ingin mengusik mu dan membuat mu risih akan hadirku. Namun saat ini hanya penyesalan yang selalu hadir kala aku mengingat saat itu, aku tak bisa memutar waktu itu, dimana aku ingin sekali menyapa mu, dan saat ini aku benar-benar takkan pernah lagi bisa menyapa mu masalalu ku.

Sudah 2 tahun kamu pergi, tanpa pesan, tanpa kata selamat tinggal, dan tanpa firasat. Kamu hanya menyapa ku disaat kamu telah memilih untuk pergi, walaupun aku tak tahu pasti jika itu memang benar kamu atau tidak. Aku meneteskan air mata beberapa jam sebelum kau dikatakan telah tiada, dalam tidurku aku tak tahu pasti apa yang terjadi, namun air mata itu terus mengalir. Apakah dialam bawah sadarku kau datang menghampiri ku? Jika benar itu yang terjadi, mengapa kamu tak mengizinkan aku untuk mengetahui segala yang terjadi kala itu?

Teringat saat kita selalu saling mengirim pesan singkat, bagaimana kamu dengan begitu cepat membalas pesanku, bahkan dulu aku pernah membuat sebuah permainan, dimana kita tidak boleh membalas pesan siapapun kecuali pesan dari ku, dan begitu juga dengan ku. Dimana saat itu kamu sampai memberikan alasan ingin tidur pada orang yang mengirim kamu pesan hanya untuk permainan ini, sampai aku begitu bingung apakah sebegitu pentingnya menjalankan permainan yang aku buat itu?
Dulu juga kamu pernah menolong aku menghindar dari seseorang yang selalu ingin mendekati ku, saat itu kau menyuruh ku untuk mengatakan padanya, jika tanpa mu aku takkan mau bertemu dengannya. Saat itu aku merasa sangat berharga dimata mu, saat itu aku merasa bahwa kamu mencintai ku.
Memang dulu kita hanya teman bahkan kadang kau menganggap aku sahabat dan tak jarang kau menganggap aku sebagai seorang saudara, namun aku nyaman dengan status itu karena aku tahu takkan ada alasan bagi kita untuk memutuskan hubungan kita walau kita juga tidak jauh dari perselisihan yang kadang membuat kita saling diam dan tak saling berkomunikasi, namun tak pernah lebih dari satu hari kita tak saling menyapa, terkadang aku yang memulai dan tak jarang pula kau yang mengalah. Saat itu umur kita juga masih terlalu muda untuk memulai sebuah hubungan yang memang pada dasarnya sudah layak bagi anak yang lainnya, namun kau juga tahu bahwa aku seorang perempuan yang tidak mudah untuk memulai suatu hubungan seperti itu. Aku nyaman dengan kita yang hanya sebagai teman namun layak disebut seperti sepasang kekasih.

Segala pesan yang pernah kau beri tak satu pun tersisa, semua lenyap entah dengan cara apa aku pun tak mengingatnya, namun semua yang pernah kita lalui dan semua pesan yang ku terima darimu tak pernah terhapuskan dalam ingatan ku, semua tersimpan rapih, walau tak satu pun dapat ku baca kembali. Begitu pula dengan mu,walau kau tak lagi terlihat oleh ku, walau kau tak lagi bisa ku sentuh, kau tetep satu orang yang akan selalu ku ingat dan ku cintai. Aku tak perlu menuliskan nama mu disini, aku ingin tahu apakah 10,20,30,40,50 atau bahkan 100 tahun lagi apakah aku masih tahu untuk siapa tulisan ini ku tujukan.

Komentar